English English   Indonesia Indonesia
Organic ShoppingOrganic Producers Green HomeEco PropertiesEco/GreenOrganic DistributionOrganic Farm SuppliesOrganic NewsOrganic NGOOrganic EducationSuperstarsContributing Writers
Find us on Facebook

Opini : AR5, Laporan Perubahan Iklim Global Yang Mengkhawatirkan - Mongabay
Last modified: 2014-11-20 21:39:45

Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) - badan ilmiah dibawah PBB - secara resmi telah mengeluarkan Laporan Kajian Kelima (Assesment Reports 5 / AR5), yang dimulai bulan September 2013 dan berakhir pada bulan November 2014.

AR5 telah disetujui dalam pertemuan IPCC di Kopenhagen, Denmark dari 26 Oktober-1 November 2014. Lebih dari 100 pemerintah menghadiri pertemuan ini untuk membahas dan menyetujui laporan akhir.

Laporan ini menggabungkan dan menyarikan pesan utama dari tiga publikasi sebelumnya yang dibuat tiga kelompok kerja IPCC yaitu basis ilmiah, dampak iklim, dan mitigasi perubahan iklim.

AR5 adalah puncak dari enam tahun kerja, yang menggabungkan secara komprehensif tentang dasar ilmiah, teknis dan sosial-ekonomi perubahan iklim, penyebabnya, potensi dampak dan strategi menghadapinya. IPCC juga menghasilkan Laporan Khusus, yang merupakan penilaian terhadap isu tertentu dan Laporan Metodologi, yang memberikan panduan praktis untuk persiapan penghitungan gas rumah kaca.

Banyak ahli secara seksama telah menyajikan temuan dalam Laporan Sintesis. Dibandingkan dengan laporan sebelumnya, Laporan Sintesis menilai basis ilmiah yang jauh lebih besar dari literatur ilmiah, teknis, dan sosial ekonomi; jumlah publikasi ilmiah lebih dari dua kali lipat antara tahun 2005 dan 2010.

Selama seluruh proses, termasuk pada Kelompok Kerja Basis Ilmiah, Adpatasi dan Mitigasi, 830 ahli dari 80 negara mengulas lebih dari 30.000 makalah penelitian yang diterbitkan untuk menghasilkan laporan IPCC yang berbeda.

Sejumlah catatan menarik, sekaligus memprihatinkan dan mengkhawatirkan terdapat dalam AR5 IPCC ini. Berbagai bukti perubahan iklim dan dampaknya mempengaruhi kehidupan dan masa depan manusia.

Perubahan Iklim Nyata

Suhu global telah meningkat sekitar 0,8 derajat celcius selama abad terakhir. Tiga dekade terakhir ini secara berturut-turut kondisinya lebih hangat dari pada dekade sebelumnya, dan telah tercatat bahwa 30 tahun terakhir ini cenderung periode terpanas dalam 1.400 tahun di wilayah belahan bumi utara.

Hal ini disebabkan karena salju, es, lapisan es dan gletser yang mencair di kutub dan di sekitar seluruh dunia. Wilayah gletser di seluruh dunia mengalami penyusutan dan kondisi permafrost yang mencair. Permafrost merupakan lapisan tanah, sedimen atau batuan dan termasuk didalamnya es atau materi organik yang secara permanen membeku dengan suhu dibawah nol derajat celcius.

Tutupan salju musiman di wilayah belahan bumi utara mengalami penurunan. Lapisan es Laut Arctic di musim panas telah berkurang rata-rata sekitar 40 persen sejak tahun 1979 dan ini terjadi jauh lebih cepat daripada yang telah diantisipasi sebelumnya.

Tinggi permukaan air laut global telah meningkat sebesar 20 cm dimulai sejak awal abad yang lalu dan kenaikan ini mengalami percepatan. Lautan menjadi semakin asam karena menyerap lebih dan lebih banyak karbon dioksida.

Terjadinya peningkatan frekuensi gelombang panas dan peningkatan intensitas curah hujan di berbagai daerah. Peristiwa cuaca ekstrim berubah, gelombang panas yang berlangsung lebih lama dan menjadi lebih intens, dan peristiwa hujan deras menjadi lebih dahsyat. Pola curah hujan telah berubah, mempengaruhi pasokan air dari beberapa komunitas

Pengaruh Manusia Signifikan

Dengan tingkat keyakinan sebesar 95 persen, laporan IPCC terbaru tersebut menegaskan bahwa aktivitas manusia merupakan penyebab perubahan iklim. Sangat dimungkinkan bahwa aktivitas manusia mempunyai pengaruh yang dominan terhadap perubahan iklim selama 50 tahun terakhir ini dan menyebabkan terjadinya kenaikan suhu global.

Jejak manusia telah ditemukan di hampir semua aspek perubahan iklim. Pengaruh manusia, diamati terutama dari emisi gas rumah kaca, sangat mungkin telah menjadi penyebab utama peningkatan pada suhu global sejak pertengahan abad ke-20.

Pengaruh manusia juga telah ditemukan pemanasan di lautan, perubahan curah pola hujan dan mencairnya es di Kutub Utara. Selain itu emisi gas rumah kaca karena aktifitas manusia telah meningkat sangat besar sejak revolusi industri.

Kadar karbondioksida yang sekarang tertinggi setidaknya dalam 800.000 tahun terakhir. Sebagian besar kenaikan emisi ini telah terjadi dalam 40 tahun terakhir atau dibandingkan dengan era pra-industri dan peningkatan ini terutama disebabkan karena pembakaran bahan bakar fosil serta penggundulan hutan. Kadar karbondioksida saat ini menjadi yang tertinggi dalam sejarah manusia.

Bagaimana dengan masa depan?

Tanpa tindakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, kita bisa melihat dampak yang parah, luas, dan pada masyarakat dan lingkungan global yang tidak dapat diubah; Suhu
global bisa lebih dari 4°C di atas suhu sebelum revolusi industri dan berakibat gelombang panas akan terjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama, meningkatkan risiko masalah kesehatan terutama pada populasi yang rentan.

Curah hujan lebat akan menjadi lebih lebat dan lebih sering di banyak tempat, membuat banjir lebih parah. Samudra akan terus menghangat dan bertambah asam, berpengaruh negatif terhadap satwa liar laut dan perikanan.

Permukaan laut rata-rata global akan terus meningkat, mengganggu masyarakat di daerah dataran rendah dan meningkatkan risiko banjir pantai atau rob dan gelombang badai, hal ini berakibat pada ketahanan pangan akan rusak akibat perubahan di lautan yang berpengaruh terhadap perikanan dan kekeringan dan peningkatan suhu mengurangi hasil panen global.

Saatnya Bertindak Nyata dan Serius

Berdasarkan bukti-bukti terbaru yang telah didapatkan, menekankan perlunya bagi pemerintah, pelaku bisnis, dan individu untuk mengatasi perubahan iklim secara bersama-sama dengan cara mengurangi jumlah emisi. Model iklim menunjukkan bahwa: Membatasi dampak perubahan iklim akan membutuhkan usaha yang besar dan berkelanjutan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara global.

Dalam usaha ini, dunia internasional berpeluang untuk dapat mengurangi dan membatasi kenaikan suhu global sampai 2 derajat celcius atau kurang, sebagaimana yang telah di sepakati bersama. Emisi gas global kumulatif perlu dibatasi sampai 1.000 miliar ton karbon sejak periode praindustri.

Aktivitas manusia telah mengemisikan setengah dari jumlah total emisi tersebut dan emisi pun meningkat; Kejadian-kejadian ini dapat memperkuat alasan bagi para pemimpin dunia internasional untuk bertindak sekarang juga dalam upaya mengurangi emisi karbon domestik dan juga mengamankan kesepakatan global yang mengikat secara hukum pada tahun 2015.

Ada banyak pilihan yang tersedia untuk mengurangi risiko dampak berbahaya dari perubahan iklim di masa depan dan untuk mempersiapkan perubahan yang tidak dapat dihindari. Antara lain melakukan pengurangan substansial emisi gas rumah
kaca dalam beberapa dekade mendatang. Emisi rumah kaca global pada tahun 2050 perlu menjadi 40 sampai 70 persen lebih rendah dari tahun 2010, dan tingkat emisi mendekati nol atau di bawahnya pada tahun 2100. Ini berarti perlu emisi total karbondioksida untuk tetap kurang dari 2.900 giga ton CO2.

Kita telah memancarkan emisi 1900 giga ton CO2, yaitu sekitar dua pertiga dari batas ini. Selain itu untuk mengurangi emisi termasuk menggunakan energi lebih efisien dan beralih ke sumber energi rendah karbon seperti energi terbarukan, energi nuklir, dan energi fosil dengan penangkapan dan penyimpanan karbon dioksida pilihan untuk mengurangi emisi termasuk mengurangi karbonisasi cara kita menghasilkan listrik, menggunakan energi yang lebih e sien dan mencoba untuk mengurangi jumlah energi
yang digunakan semua.

Agus Supangat Sumber 19 November 2014

Keywords: Indonesia,organik,AR5,IPCC,PBB,perubahan iklim,emisi,karbondioksida,banjir
Advertise here - contact Indonesia Organic
Harga iklan listing dan banner efektif untuk website www.indonesiaorganic.com sebagai berikut