English English   Indonesia Indonesia
Organic ShoppingOrganic Producers Green HomeEco PropertiesEco/GreenOrganic DistributionOrganic Farm SuppliesOrganic NewsOrganic NGOOrganic EducationSuperstarsContributing Writers
Find us on Facebook

Harapan Baru dengan Organik - MedanBisnis
Last modified: 2016-08-03 20:14:59

Dulu, pertanaman dengan pola organik tidak begitu dikenal. Sebagian besar petani terperdaya dengan iming-iming hasil besar dari pola pertanaman menggunakan bahan-bahan kimia untuk obat-obatan penunjang pertumbuhan batang, daun dan buah sampai untuk membasmi hama-hama yang menyerang. Faktanya, justru petani kehilangan mata pencariannya karena pohonnya ikut hancur karena pola pertanaman yang tidak ramah lingkungan.

Ketua Kelompok Tani MB Sinuan Syuaib mengatakan, selama ini memang petani hanya asal pakai ketika datang obat-obatan maupun pupuk yang katanya dapat membantu petani untuk meningkatkan pendapatannya dari bertanam jeruk.

Dalam jangka pendek, memang menunjukkan keberhasilannya karena yang diiming-imingkan terbukti dan petani pun panen dengan hasil yang memuaskan. Walaupun, untuk mendapatkan pupuk, obat-obatan tersebut petani mengeluarkan uang yang tidak sedikit karena merasa terbalaskan ketika panen.

Namun, petani mulai tersadar ketika secara perlahan tanamannya menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan yakni buahnya tidak maksimal ditandai dengan munculnya banyak lalat buah yang tak bisa dikendalikan petani pada waktu itu. Batang-batangnya juga mengalami kerusakan ditandai munculnya jamur dan akhirnya mengering lalu mati.

Tentu saja, banyak petani yang awalnya merasakan manfaat besar dari bertanam jeruk secara perlahan tapi pasti mengalami keterpurukan. Jeruk tidak lagi memberikan hasil yang memuaskan dan satu persatu pohon jeruk mulai ditumbangkan digantikan dengan kelapa sawit, kakao ataupun karet.

Sebagian petani memilih angkat kaki dari dusun yang selama bertahun-tahun sudah "menghidupinya". Syuaib menyadari kesalahan yang dialaminya selama ini bersumber dari pola pertanaman yang salah yang mengandalkan pupuk dan obat-obatan kimia.

Hal yang mana kini ditebusnya dengan komitmen untuk berganti pola pertanaman menjadi organik. Dia bersama beberapa petani lain mulai memanfaatkan bahan-bahan yang berasal dari alam.

Menurutnya, alam tetap memiliki harapan untuk menjadi lebih baik. Pola organik yang dilakukannya mulai dari penyiapan lahan hingga penggunaan pupuk. Lahan yang akan ditanaminya terlebih dahulu digemburkan dan diberi perlakuan secara organik.

Pasalnya, pengolahan lahan secara organik akan mendukung hasil budidaya yang maksimal. Dia menggunakan dolomite (kapur) yang dikenal efektif untuk mengantisipasi lahan yang selama ini sudah sering "dihajar" pupuk kimia. "Saya juga sudah memakai kotoran ternak untuk dijadikan pupuk," katanya.

Dia memiliki 15 ekor kambing. Kotorannya, tidak pernah disia-siakannya karena sudah menyadari bahwa kotoran tersebut sangat ampuh sebagai pupuk dan juga sangat murah, berbeda dengan pupuk kimia yang harganya mahal. "Tinggal difermentasi saja. Kalau sudah siap digunakan tinggal kita bawa ke ladang," katanya sambil tersenyum.

Dia menilai, penggunaan pupuk organik dari kotoran lembu dan ayam menjadi solusi jitu untuk pertanaman jeruk di desanya.

Sebagai Ketua Kelompok Tani MB Sinuan, dia juga mengajak petani lain untuk meninggalkan pola pertanian yang salah dengan pola pertanian organik.

Dia yakin, penggunaan pupuk organik akan memberikan dampak jangka panjang yang positif. Pertama, tanah bisa subur, alam dan tanaman terlindungi dari ancaman-ancaman tak terduga, dan petani tidak mengeluarkan biaya mahal. "Mau cerita apa saja, pola organik tetap jauh lebih baik dan menguntungkan daripada kimia," katanya.

Dia meyakini bahwa segala yang ada di alam ini tidak ada yang diciptakan sia-sia. Keberadaan masing-masing di alam ini untuk menyempurnakan yang lain. Pola-pola kimia dalam pertanian yang selama ini banyak dikerjakan petani justru sebaliknya, menghilangkan yang lain untuk menciptakan yang lain dalam jangka pendek.

"Jangka panjangnya, kita sudah merasakan dengan hancurnya tanaman jeruk kami tahun-tahun lalu. Pola organik ini menjadi harapan baru bagi kami," katanya.

Dia berharap, semakin banyak petani yang menerapkan pola pertanian organik sehingga terjadi perubahan yang penting yang akhirnya petani mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda bahkan yang tidak pernah dibayangkannya.

Dia menilai, memang ada kesalahan dalam menilai sesuatu, yakni keinginan mendapatkan hasil secara instan tanpa memikirkan jangka panjangnya.

Udin, seorang petani jeruk dengan lahan setengah hektare, sejak awal tahun 2016 sudah mulai menggunakan pola organik. Dia membandingkan, dengan pola kimia, bisa menghasilkan 2 ton kini dengan pola organik dia hanya menghasilkan setengah ton.

Namun menurutnya, hal tersebut tidak menjadi masalah karena dia mementingkan jangka panjangnya. "Kami rata-rata petani di sini sudah menjadikan tahun kejadian '97 - '97 sebagai tahun pembelajaran, dan beralih ke organik, walaupun 10-20 persen masih menggunakan kimia. Tapi tak apalah produksinya nggak banyak, asalkan kejadian itu nggak terulang lagi," katanya.

Sumber 01 Agustus 2016

Keywords: Indonesia, Organic, organik, ramah lingkungan, alam, pupuk kandang, jangka panjang,
Advertise here - contact Indonesia Organic
Harga iklan listing dan banner efektif untuk website www.indonesiaorganic.com sebagai berikut