English English   Indonesia Indonesia
Organic ShoppingOrganic Producers Green HomeEco PropertiesEco/GreenOrganic DistributionOrganic Farm SuppliesOrganic NewsOrganic NGOOrganic EducationSuperstarsContributing Writers
Find us on Facebook

Di SMPN 2, Olah Sampah Jadi Kompos - RadarMalang
Last modified: 2016-08-30 20:17:27

Dulu, sebelum ada gelaran Green School Festival (GSF), di lingkungan SMPN 2 Kota Malang tak begitu perhatian dengan keberadaan sampah. Setiap ada sampah, apa pun jenisnya, dibuang begitu saja.

Setelah terkumpul di tempat sampah, petugas kebersihan langsung membakar tumpukan sampah tersebut. Cara ini masih dianggap praktis dan tidak ribet.

Tapi itu dulu. Sekarang pola pengelolaan sampah di lingkungan SMPN 2 sudah berubah. Kini setelah ada gelaran GSF yang diinisiasi Dinas Pendidikan Kota Malang dan Jawa Pos Radar Malang itu, SMPN 2 sudah mampu mengelola sampah. Semua jenis sampah: Organik dan anorganik dimanfaatkan. Yang organik diolah menjadi kompos, sedangkan yang anorganik dikumpulkan untuk dijual.

Kepala SMPN 2 Kota Malang Sri Nuryani MPd mengatakan, sekolah yang berlokasi di Jalan Prof Moh Yamin itu lebih fokus pada urusan limbah atau sampah. "Dulu ada kebiasaan membakar sampah di sini. Lha itu kan merusak lingkungan. Makanya kami putuskan untuk mengubah kebiasaan tersebut," ujar Sri Nuryani, saat Jawa Pos Radar Malang menemui di ruang kerjanya, Rabu lalu (24/8).

Cara yang dilakukan Sri adalah dengan memilah sampah sesuai jenisnya: Organik dan anorganik. Di mana masing-masing kelas sudah ada tempat sampah untuk kedua jenis limbah tersebut. Setelah itu, sampah organik diolah kembali dan dimanfaatkan menjadi kompos. "Hasilnya, kami manfaatkan sendiri untuk pupuk di taman sekolah," terangnya.

Sedangkan untuk anorganik, selama ini dikumpulkan oleh petugas kebersihan untuk dijual. Sehingga ada penghasilan tambahan bagi petugas kebersihan. Jadi, hampir tidak ada sampah di SMPN 2 yang tak berguna.

Selain mengelola sampah, SMPN 2 juga akan menambah jumlah gazebo dengan memanfaatkan lahan kosong di sudut sekolah. Itu merupakan salah satu fasilitas dengan ruang-ruang terbuka sebagai alternatif tempat berkumpul dan melakukan kegiatan dengan santai bersama-sama, banyak juga yang menyebut itu saung karena digunakan untuk tempat santai. Gazebo ini menjadi ruang belajar yang asri bagi para siswa. "Dari enam gazebo itu akan kami tambah menjadi tujuh," ungkap Sri.

Di samping itu, Sri mengatakan bahwa ada pembagian tanggung jawab bagi para siswa dalam kebersihan kamar mandi. "Meskipun jumlah kamar mandi kami belum ideal (1 kelas: 1 kamar mandi), tapi sudah ada kavling untuk jadwal piket. Yaitu siswa dari 2 kelas bertanggung jawab dalam kebersihan untuk 1 kamar mandi," bebernya.

Sri menambahkan, semua upaya pembenahan itu semata-mata dia lakukan untuk memberi kesadaran peduli terhadap lingkungan kepada para siswa. "Di samping mengikuti GSF, semua ini untuk menumbuhkan jiwa peduli lingkungan. Karena menjaga lingkungan, maka secara tidak langsung juga untuk kepentingan diri sendiri," ujarnya.

Secara keseluruhan, Sri mengaku telah menerjunkan satu guru dan empat siswa di tiap isu lingkungan. "Persiapan sudah berjalan. Sosialisasi kepada orang tua, guru, dan panitia juga sudah. Kami tinggal mengontrol perkembangannya saja," tandas dia.

Sumber 26 Agustus 2016

Keywords: Indonesia, Organic, SMP, Malang, sampah, kompos, memilah, taman sekolah, peduli lingkungan,
Advertise here - contact Indonesia Organic
Harga iklan listing dan banner efektif untuk website www.indonesiaorganic.com sebagai berikut