English English   Indonesia Indonesia
Organic ShoppingOrganic Producers Green HomeEco PropertiesEco/GreenOrganic DistributionOrganic Farm SuppliesOrganic NewsOrganic NGOOrganic EducationSuperstarsContributing Writers
Find us on Facebook

Bangun Pertanian Organik Indonesia
Last modified: 2011-05-01 18:58:38

DALAM menjawab tantangan globalisasi dan trend permintaan konsumen maupun pasar dunia yang berkembang saat ini yang mulai sangat peduli terhadap produk-produk yang bebas residu kimia, ramah lingkungan dan menyehatkan seperti produk pertanian organik. Tentu saja hal ini juga penting dalam rangka pengembangan pertanian organik di Indonesia di masa mendatang sehingga Indonesia mampu menjadi produsen organik terkemuka di dunia. Hal ini dapat dimengerti mengingat potensi Indonesia yang sangat kaya akan plasma nutfah dan sebagian besar lahan pertaniannya, khususnya yang di luar jawa, masih bersifat "virgin" sehingga otomatis produk yang dihasilkannya secara given telah merupakan pangan organik.

Pemerintah dalam hal ini termasuk masyarakat pertanian Indonesia diharapkan bertindak nyata dalam upaya mempopulerkan dan mengangkat citra produk pertanian organik Indonesia dalam rangka mendukung terwujudnya ketahanan pangan yang tangguh . Merupakan upaya nyata menghimpun berbagai sumberdaya dan kekuatan untuk merevitalisasi pertanian sebagai pilar utama pembangunan ekonomi nasional dalam bentuk yang riil dan tidak sebatas konsep nyata.

Menurut mantan Menteri Pertanian, Dr. Ir. Anton Apriantono menjelaskan bahwa pembangunan pertanian dihadapkan pada sejumlah kendala dan masalah yang harus segera dipecahkan, yaitu antara lain:1) keterbatasan dan penurunan kapasitas sumberdaya pertanian, 2) lemahnya sistem alih teknologi dan kurang tepatnya sasaran, 3) terbatasnya akses terhadap layanan usaha terutama permodalan, 4) panjangnya rantai tataniaga dan belum adilnya sistem pemasaran, 5) rendahnya kualitas, mentalitas, dan keterampilan sumberdaya petani, 6) lemahnya kelembagaan dan posisi tawar petani, 7) lemahnya koordinasi antar lembaga terkait dan birokrasi, dan 8) belum berpihaknya kebijakan ekonomi makro kepada petani. Namun, terlepas dari kendala dan masalah di atas, sektor pertanian tetap menjadi tumpuan harapan tidak hanya dalam upaya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga dalam penyediaan kesempatan kerja, sumber pendapatan, penyumbang devisa dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebenarnya dalam pengembangan pertanian organic Indonesia, program Kementerian Pertanian adalah mendorong terwujudnya pertanian yang tangguh, berdaya saing, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, dan mendorong peningkatan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional, melalui peningkatan PDB, ekspor, penciptaan lapangan kerja, penanggulangan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat; serta memperjuangkan kepentingan dan perlindungan terhadap petani dan pertanian Indonesia dalam sistem perdagangan Internasional. Misi yang ingin dicapai tersebut sesungguhnya sangat sesuai dengan misi dari pertanian organik seperti yang ditekankan oleh International Federation of Organik Agriculture Movement (IFOAM klik disini) maupun Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO klik di sini).

Pertanian organik merupakan sistem manajemen produksi yang holistik yang mendukung dan meningkatkan kesehatan ekosistem, termasuk siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Sedangkan IFOAM menjelaskan bahwa pertanian organik merupakan suatu pendekatan sistem yang utuh berdasarkan satu perangkat proses yang menghasilkan ekosistem yang berkelanjutan (sustainable), pangan yang aman, gizi yang baik, kesejahteraan hewan dan keadilan sosial. Dengan demikian, pertanian organik lebih dari sekedar sistem produksi yang memasukkan atau mengeluarkan input tertentu, namun juga merupakan satu filosofi dengan tujuan.mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas dari komunitas yang saling berketergantungan dari kehidupan tanah, tanaman, hewan dan orang.

Jangan kita terjebak pada pengertian pertanian organik yang sempit semisal hanya berkutat pada pupuk organik, buah dan sayuran organik. Namun juga perlu dikaji kemungkinan pengembangan pertanian organik untuk jenis usaha tani lainnya semisal produk perkebunan organik (kelapa, vanilla, virgin oil, sawit), ternak organik, unggas dan ternak organic lainnya, susu organik, madu organik, sutera organik, kecambah organik termasuk produk olahan organik yang bisa memenuhi kebutuhan konsumen akan produk organik.

Untuk meningkatkan kepercayaan pasar, program sertifikasi dan pembinaannya perlu terus ditingkatkan baik oleh pemerintah maupun lembaga/perusahaan yang geliat atau peduli dengan pengembangan pertanian organic ini, sehingga program sertifikasi organik Indonesia diakui dunia dan para petani kita tidak perlu membayar mahal biaya sertifikasi. Pelatihan Internal Control System (ICS) perlu diperluas sehingga lebih banyak lagi kelompok tani yang tersentuh oleh program ini.

Produk pertanian kita harus mampu bersaing dan memberikan nilai positif yang dapat dirasakan oleh konsumen baik nasional maupun global. Produk pertanian kita tidak mungkin mampu bersaing bila sistem pertanian kita tidak mampu menghasilkan produk pertanian (baca:pertanian organic) yang berkualitas dan aman sesuai dengan tuntutan konsumen saat ini. Pada era pasar bebas ini produk kita semakin dituntut untuk mampu bersaing bukan hanya di pasar internasional namun juga di pasar domestik. Hal ini terkait dengan semakin membanjirnya produk-produk pertanian dari negara lain ke negara kita (ini sudah menjadi bukti nyata di pasar Indonesia), sementara produk kita semakin susah masuk ke negara lain (ekspor) terkait semakin ketatnya persyaratan yang ditetapkan negara tempat tujuan ekspor. Hal ini merupakan implikasi yang wajar dari diratifikasinya perjanjian WTO mengenai SPS dan TBT. Perlu ada terobosan-terobosan untuk mampu mengatasi hal tersebut demi majunya sektor pertanian kita.

Pertanian organik merupakan salah satu alternatif yang kita harapkan akan terus dan terus bertambah kontribusinya terhadap PDB kita. Kita tahu di negara lain, khususnya di negara-negara Eropa, Australia, Amerika Latin, dan Amerika Serikat pertanian organik merupakan sektor pangan yang paling cepat pertumbuhannya. Laju pertumbuhan penjualan pangan organik berkisar dari 20-30% pertahun selama dekade terakhir ini.

Pemerintah sekarang sebenarnya sudah membuka peluang untuk maju berkembangnya pertanian (baca:produk) organic ini, misalnya program Kementerian Pertanian melalui LM3 (Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat) atau pemberian bantuan kredit dgn bunga 6% bagi pengembangan lingkungan/pertanian (go green) tinggal kita perlu menyikapi dengan serius.

Penyuluh lapang pertanian perlu dibekali dengan materi dan keterampilan sistem pertanian organik sehingga bila petani ingin beralih usaha ke pertanian organik mereka tidak perlu kesulitan. Peran LSM/NGO atau perusahaan yang selama ini banyak membantu petani/pekebun tentu harus terus dilanjutkan dan ditingkatkan termasuk pemerintah perlu mendorong tumbuh berkembangnya semangat ini. Pemerintah diharapkan melibatkan LSM/pengusaha dalam aktifitas penyuluh lapang (sinergi keduanya) agar program bisa terealisir, baik dalam bentuk pelatihan/seminar atau kegiatan langsung dilapangan bersama para penyuluh pertanian, karena penulis selaku penggiat di bidang ini, melihat fakta dilapangan (empiris) bahwa petani/masyarakat perlu sedikit dibekali pemikiran atau jiwa entrepreneur (pengusaha) demi merubah pola pikir (paradigma) tentang pertanian organic itu sendiri. Bahwa tujuan pembangunan pertanian organic ini adalah untuk mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas dari komunitas yang saling berketergantungan dari kehidupan tanah, tanaman, hewan dan orang, khususnya mengoptimalkan sumberdaya lokal yang ada (salah satu contoh kegiatan misalnya bagaimana mengelola sampah atau limbah pertanian menjadi pupuk organic, dll). Kita sadari bersama bahwa keberhasilan program pertanian akan menjadi sia-sia kalau kesejahteraan petani tidak ada peningkatannya. Bagaimana Sobat semuanya, mari sumbang-saran demi pembangunan pertanian organik Indonesia ......????


IN answer the challenges of globalization and trends in consumer demand and a growing world market today that started very concerned about the products free of chemical residue, environmental friendly and healthy as organic agricultural products. Of course this is also important in order to develop organic agriculture in Indonesia in the future so that Indonesia could become a leading organic producer in the world. This is understandable given the potential of Indonesia is very rich in germplasm and most of their agricultural land, particularly those outside Java, still "virgin" that automatically produces a given product has an organic food.

Government in this regard including the agricultural community in Indonesia is expected to act real effort to popularize and raise the image of organic agriculture products of Indonesia in order to support the realization of food security is tough. Is a real effort to collect a variety of resources and power to revitalize agriculture as the main pillar of national economic development in the form of a real and not merely a concept real.

According to former Minister of Agriculture, Dr. Ir. Anton Apriantono explained that agricultural development are faced with some obstacles and problems to be solved, among other things: 1) the limited and decreasing capacity of agricultural resources, 2) weak technology transfer system and the lack of precise targets, 3) limited access to business services, especially capital , 4) long chain of business administration and marketing system is not fair, 5) low quality, mentality, and skills of farmers' resources, 6) weak institutional and bargaining position of farmers, 7) weak coordination among relevant institutions and bureaucracy, and 8) have not berpihaknya economic policy macro to farmers. However, despite the constraints and problems mentioned above, the agricultural sector remains a focus for the hopes not only in maintaining food security, but also in the provision of employment, sources of income, foreign exchange and contributor to national economic growth.

Actually in the development of organic farming Indonesia, Ministry of Agriculture program is to promote the establishment of a strong agricultural, competitive, environmentally sustainable, and encourage increased agricultural sector contribution to national economy, through increased GDP, exports, job creation, poverty reduction, and increased social welfare; and fight for the interests and protection of farmers and agriculture of Indonesia in international trading system. Mission to be achieved is actually very appropriate to the mission of organic agriculture as outlined by the International Federation of Organic Agriculture Movement (IFOAM click here) and the Food and Agriculture Organization (FAO click here).

Organic agriculture is a holistic production management system that support and enhance the health of ecosystems, including biological cycles and soil biological activity. While IFOAM explained that organic farming is a whole system approach based on a set of processes that produce sustainable ecosystems (sustainable), safe food, good nutrition, animal welfare and social justice. Thus, organic farming is more than just a production system that include or exclude certain input, but also a philosophy with tujuan.mengoptimalkan health and productivity of inter-dependent communities of soil life, plants, animals and people.

Do we get stuck on a narrow definition of organic agriculture such as dwell only on organic fertilizers, organic fruits and vegetables. But it is also necessary to study the possibility of developing organic agriculture to other types of farming such as organic gardening products (coconut, vanilla, virgin oil, palm oil), organic livestock, poultry and other organic livestock, organic milk, organic honey, organic silk, organic sprouts including product organic preparations that can meet the needs of consumers of organic products.

To improve market confidence, certification programs and supporting them need to be increased either by government or institution / company that stretching or concerned with the development of organic agriculture, so that Indonesia organic certification program is recognized worldwide and our farmers do not have to pay the expensive cost of certification. Training Internal Control System (ICS) should be expanded so that more farmers' groups who are touched by this program.

Agricultural products we should be able to compete and give a positive value that can be felt by consumers both nationally and globally. Our agricultural products may not be able to compete if our agricultural systems are not capable of producing agricultural products (read: organic farming) are qualified and safe in accordance with the demands of today's consumers. In this era of free market our products increasingly demanded to be able to compete not only in international markets but also in the domestic market. This is related to the increasing flood of agricultural products from other countries into our countries (it has become evident in the Indonesian market), while the more difficult our products into other countries (exports) is related more tight requirements set export destination country. This is a reasonable implication of ratification of the WTO agreement on SPS and TBT. Need any breakthroughs to be able to overcome this for the sake of our agriculture sector advances.

Organic agriculture is one of the alternatives that we hope will continue and continue to increase its contribution to our GDP. We know in other countries, particularly in European countries, Australia, Latin America, and the United States of organic agriculture is a sector of the fastest growing food. Organic food sales growth rate ranged from 20-30% annually over the last decade.

The government now actually have the opportunity to advance the development of agriculture (read: product) This organic, such as the Ministry of Agriculture program through LM3 (Institute for Self-rooted in the Community) or granting credit assistance with interest at 6% for the development environment / agriculture (go green) stay we need to address seriously.

Agricultural field extension workers should be equipped with materials and skills on organic farming system so that if farmers want to switch to organic farming business they do not have trouble. Role of NGOs / NGOs or company that is much help to farmers and planters of course should be continued and enhanced, including the government needs to encourage the growing development of this spirit. The government is expected to involve NGOs / entrepreneurs in the field extension activities (synergies both) for the program can be realized, either in the form of training / seminars or joint activities directly in the field of agricultural extension, because the writer as activist in this field, see the facts on the ground (empirical) that farmers / community needs a little thought or soul equipped entrepreneur (entrepreneur) in order to change the mindset (paradigm) about organic farming itself. That the purpose of development of organic agriculture is to optimize health and productivity of inter-dependent communities of soil life, plants, animals and people, especially to optimize local resources that exist (one example of how to manage activities such as waste or agricultural waste into organic fertilizer, etc. .) We realize together that the success of the agricultural program would be in vain if the welfare of farmers there was no improvement. How is everything buddy, let's tune-suggestions for the development of organic farming Indonesia ... ...??

Kompasiana
HL | 18 April 2010 | 22:22 428 25



2 dari 3 Kompasianer menilai Menarik

Keywords: Indonesia, organik, organic, farming, pertanian, Anton Apriantono, masyarakat, community, trend, kecenderungan, Kompasiana
Advertise here - contact Indonesia Organic
Harga iklan listing dan banner efektif untuk website www.indonesiaorganic.com sebagai berikut